Keluargaberencana's Weblog

LAYANAN BURUK RUMAHSAKIT PIRNGADI MEDAN: MENAKUTI KELUARGA PASIEN DENGAN DIAGNOSA TAK BECUS (2) | Oktober 7, 2008

MASIH berkaitan dengan cerita buruknya pelayanan Rumahsakit Pirngadi Medan terhadap kasus anak saya, Afthar Rizky Simangunsong, 2 tahun 3 bulan (ketika itu). Dokter spesialis anak, dokter jaga dan dokter muda di rumahsakit milik Pemko Medan itu, memang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak pernah memandang secara psikologis kondisi keluarga pasien ketika menyampaikan informasi tentang pasien yang sedang mereka rawat.

Lebih “menjijikkan” lagi, ketika mereka dengan gampangnya menyampaikan hasil diagnosa anak saya, mereka justru tidak mengambil tindakan sesegera mungkin untuk menanggulanginya. Mereka katakan, anak saya yang mengalami kejang dan tidak sadarkan sudah dua hari di rumahsakit itu, sudah mengalami kondisi infeksi paru-paru dan ada amuba yang masuk ke dalam otak. Disinilah kekonyolan, ketidakbecusan dan keberengsekan kualitas dokter di rumahsakit tersebut, di mana mereka tidak segera mengambil tindakan untuk melakukan rontgen paru-paru dan scanning kepala.

Dengan tidak memikirkan seberapa nyeri hati keluarga pasien mendengar hasil diagnosa tersebut, gerombolan dokter “tidak becus” itu, seenaknya saja meninggalkan ruangan di mana anak saya dirawat. Sungguh tidak menunjukkan sikap peduli terhadap bagaimana nasib anak saya setelah mereka berikan diagnosa. Kemudian, bersama istri, saya baru menyadari bahwa anak saya hanya mereka jadikan “kelinci percobaan” studi kesehatan untuk kepentingan pribadi mereka sebagai dokter. Sungguh “biadab”, dan seharusnya mereka memberikan informasi tindakan lanjutan atas hasil diagnosa mereka itu.

Setidaknya, mereka memberikan penawaran pentingnya dilakukan sesegera mungkin rontgen paru-paru dan scanning kepala. Tapi, mulut mereka yang mengaku sebagai ahli kesehatan terhormat di Kota Medan, tidak ada menyampaikan hal tersebut. Sebenarnya, dokter itu harus memposisikan diri mereka sebagai bagian dari penyejuk kegalauan hati keluarga pasien, bukan sebagai motor penggerak kepedihan. Bayangkan saja, karena diagnosa “senewen” itu, pikiran istri saya menjadi terganggu dan menangisi anak lelaki satu-satunya di keluarga kami.

Merasa tidak puas dengan prilaku dokter dan pengelola rumahsakit Pirngadi Medan, kami dengan ditemani saudara kami Aswin Halim dari Yayasan Buddha Tzu Chi, memaksa pihak rumahsakit untuk merelakan anak kami dipindahkan ke Rumahsakit Kesdam I/BB Jalan Putri Hijau Medan. Setelah anak kami dipindahkan, kami seakan merasa terbebaskan dari rongga kesengsaraan dan kepenatan.

Di Rumkit Kesdam (yang juga dikelola pemerintah), kami mendapat layanan cukup baik dari dokter maupun perawat. Di rumahsakit inilah, saya merasakan bahwa kata kunci dalam proses penyembuhan adalah pelayanan. Pasien butuh pelayanan yang baik dan dengan ketulusan hati. Tentu saja, dengan tidak membedakan asal atau status ekonomi si pasien. Setelah dilakukan pemeriksaan melalui scanning dan rontgen, ternyata anak saya tidak mengalami gangguan seperti yang dikatakan dokter di Rumahsakit Pirngadi Medan, bahwa ada amuba di otak dan infeksi paru-paru. Hasil pemeriksaan, anak saya bersih. Jadi, apa sebenarnya yang disampaikan dokter-dokter di Rumahsakit Pirngadi Medan tentang kondisi anak saya? Kenapa dokter spesialis anak berinisial Lun itu, seenak perutnya mengeluarkan diagnosa yang membuat keluarga saya merasa terganggu.

Kalaulah begitu kualitas dokter di Rumahsakit Pirngadi Medan, paradigma apa yang sudah berubah di rumahsakit tersebut? Betapa buruknya pelayanan dan penghargaan pihak Rumahsakit Pirngadi Medan tehadap pasien dan keluarganya. Janganlah masyarakat awam karena ketidaktahuannya tentang dunia medis, diperlakukan dengan tidak manusiawi. Semoga, apa yang mereka perlakukan ini, tidak masuk kategori dosa? Kalaulah itu termasuk dosa, wntah sudah berapa banyak “korban” yang sama dengan nasib kami di rumahsakit tersebut. Tapi, biarlah mereka yang menanggu “dosa” akibat penderitaan yang kami rasakan.

Medan, 7 Oktober 2008
INGOT SIMANGUNSONG


Ditulis dalam RS PIRNGADI MEDAN

1 Komentar »

  1. memang sangat2 biadab para dokter diRS pirngadi. mereka udah gak punya hati sama sekali.
    3 hari yang lalu, ada pasien seorang balita yang ususnya terburai keluar,tapi udah 2 hari disana para “dokter bajingan” itu gak menyentuh balita tersebut. sungguh sedih hati orangtua bayi itu ketika menceritakannya kepada saya dan keluarga pasien lainnya yang ada disitu saat dia hendak membawa anaknya kerumahsakit lainnya. semoga apa yang telah dilakukan para “dokter bangsat” diRS pirngadi itu mendapat balsannya. amin ya Allah..

    Komentar oleh r4hm47 — November 11, 2008 @ 4:02 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: