Keluargaberencana's Weblog

India Larang Merokok di Publik | Oktober 7, 2008

Di Connaught Place, pusat perdagangan utama Delhi, jam istirahat makan siang merupakan saat tersibut bagi Bhag Chand Jain. Dia duduk di kios kecil, di depan gedung bertingkat, menjual keripik kentang, minuman soda, permen, permen karet dan rokok.

Pembeli tidak berhenti datang – kebanyakan membeli sekantung tembakau untuk dikunyah, namun sebagian besar membeli rokok.

Para perokok itu menyalakan rokok dengan menggunakan korek yang terikat dengan tali, ujung rokok menyala seperti bara api.

Diantara para pembeli itu, tampak dua wanita muda – mereka menyalakan rokok dan berjalan ke arah gedung kantor mereka yang terletak beberapa meter jauhnya.

“Tolong jangan tulis nama kami. Orang tua kami tidak tahu kami merokok,” ujar salah satu dari mereka.

Gedung kantor mereka baru dinyatakan sebagai zona bebas merokok, langkah yang diambil menjelang pemberlakuan larangan pemerintah merokok di tempat-tempat umum mulai tanggal 2 Oktober.

Sampah masyarakat
“Biasanya kami merokok di tangga. Akhir-akhir ini kami harus keluar gedung untuk mereokok – kami tidak bisa lagi menyalakannya di dalam gedung,” ujarnya.

Bagi kedua wanita ini, dulu istirahat merokok sangat menyenangkan dan waktu untuk berhubungan dengan kelompok sosial mereka. Kini, hal itu sudah berakhir.

“Kami merasa seperti sampah masyarakat sekarang,” ujarnya.

Sambhav Mahapatra, seorang pegawai bank, menghisap rokoknya dengan nikmat. “Ini membuang waktu. Dulu saya hanya mengambil waktu tiga sampai empat menit untuk merokok. Sekarang 15 sampai 20 menit,” ujarnya sambil menggerutu.

Perasaan jengkel seperti ini yang diharapkan pihak berwenang bisa memenangkan langkah melarang merokok.

Para pakar mengatakan, perokok akan merokok lebih sedikit jika mereka tidak bisa melakukannya di dalam gedung saat melakukan pertemuan sosial.

Departemen kesehatan Inggris mengatakan empat ratus ribu orang berhenti mereokok satu tahun sejak larangan serupa diterapkan di negara itu.

Menteri Kesehatan India Anbumani Ramadoss mengatakan larangan di India ini akan “membuat para perokok keberatan, membuat mereka berhenti atau setidaknya mengurangi merokok”.

Untuk membantu mereka yang bersedia menghentikan kebiasaan itu, departemen kesehatan mengumumkan rencana mendirikan 100 klinik untuk berhenti merokok dalam dua tahun.

Kekhawatiran besar
“Di India sembilan ratus ribu orang meninggal setiap tahun karena merokok, 2.500 orang setiap bulan dan 102 orang setiap jam. Empat puluh persen kasus penyakit kanker di negara ini disebabkan karena merokok,” ujar Dr Sajeela Maini, presiden Yayasan Pengawasan Rokok India.

Dr Maini memiliki klinik berhenti merokok di sebuah rumah sakit swasta di Delhi.

Dalam satu dekade ini dia telah membantu lima ribu orang dan menjalankan sesi kelompok khusus bagi masyarakat dan juga kelompok swasta.

“Pasien saya mulai dari umur 12 sampai 75 tahun, pria dan wanita. Di tingkat awal program saya membantu mereka berhenti merokok, di tahap kedua adalah membantu mereka tetap tidak merokok,” ujarnya.

“Larangan merokok di tempat umum adalah ide yang bagus, tapi saya khawatir para perokok kini mulai merokok lebih banyak di rumah mereka.”

Para pejabat mengatakan tujuan larangan ini adalah melindungi perokok pasif.

“Sekarang, siapa perokok pasif terbesar? Keluarga – isteri dan anak,” tambah Dr Maini.

Dia juga khawatir para perokok akan berganti menjadi pengunyah tembakau jika tidak bisa merokok di kantor.

“Kita harus melarang semua produksi dan persediaan produk-produk tembakau,” katanya.

Larangan ini membuat para pemilik restoran dan bar di India tidak bisa tidur nyenyak.

Surat edaran dari Departemen Kesehatan menyebutkan setiap restoran dan bar dengan kapasitas 30 orang atau lebih bisa memiliki zona merokok, tetapi harus tertutup dan terpisah dari zona dilarang merokok.

Dampak ke bisnis
Itu peraturan yang sulit – sebagian besar restoran dan bar tidak punya tempat untuk membangun zona boleh merokok.

Q’ba, sebuah restoran dan bar di Connaught Place, ramai dengan pelanggan.

General manajer Q’ba, Sunil Tikku, mengatakan dari sekitar 300 orang yang datang setiap hari, sekitar 100 orang adalah perokok.

“Orang datang untuk makan, minum dan merokok. Mereka kini harus keluar restoran dan merokok di jalanan. Larangan ini pasti akan berdampaki pada usaha kami, meski belum tahu besar dampaknya.” ujar Tikku.

Namun pihak berwenang berkeras bahwa bisnis tidak akan terpengaruh karena trend di dunia memperlihatkan bahwa konsumen lebih menyukai tempat yang bebas rokok.

“Rokok berbahaya bagi manusia. Dan dengan larangan ini pemerintah bertujuan melindungi hak warga yang tidak merokok,” Priyanka Dahiya, pengacara kelompok anti rokok Delhi, Hriday.

“Saya menderita penyakit asma. Saya tahu rasanya. Banyak wanita yang menderita asma dan penyakit serupa karena suami mereka merokok. Dan anak-anak pun terpengaruh. Kita perlu melindungi mereka dari asap rokok,” katanya.

Kubu tidak merokok mengatakan larangan ini memang sudah lama ditunggu-tunggu. Namun, banyak yang memandang peraturan itu tidak cukup; yang dibutuhkan adalah penerapannya.

India memiliki banyak peraturan yang baik, namun seringkali tidak efektif karena tidak diterapkan secara benar dan tidak ada penegakannya.


Ditulis dalam BERITA

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: