Keluargaberencana's Weblog

LAYANAN BURUK RUMAHSAKIT PIRNGADI MEDAN | September 22, 2008

TANGGAL 18 SPETEMBER 2008, PUKUL 23.30 WIB, putra bungsu kami, AFTHAR RIZKY, 2 tahun 3 bulan, mengalami kejang yang mengakibatkan tidak sadarkan diri. Merasa khawatir, kami bawa ia ke klinik terdekat di Jalan Tempuling (milik boru Sianturi). Pemilik klinik setelah melihat kondisi anak kami, menganjurkan agar segera dibawa ke Rumahsakit Pirngadi Medan. Karena rumahsakit tersebut yang terdekat, kami pun segera membawa ke sana.

AFTHAR RIZKY

AFTHAR RIZKY

Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), kami mulai merasa kecewa dengan kesigapan pelayanan rumahsakit milik Pemko Medan yang katanya sudah merubah paradigma layanan tersebut. Anak kami yang sudah jelas tidak sadarkan diri, hanya diperiksa layaknya pasien korban kecelakaan. Kami sebenarnya berharap, putra bungsu kami tersebut disegerakan untuk masuk ke ruang Intensif Care Unit (ICU). Tapi, kami yang merasa kalut dan tidak mungkin melarikannya ke rumahsakit lain, hanya pasrah menerima keadaan dan mengikuti saja bagaimana pihak rumahsakit itu melakukan tindak pelayanan terhadap anak kami.

Sebelum selesai dilakukan pemeriksaan awal di ruang IGD, saya sudah anjurkan agar anak saya diberikan pelayanan khusus, bila perlu di ruang VIP. Tapi, petugas yang melakukan pemeriksaan malah membawa anak saya ke ruang III (Anak). Ya Tuhan, anak saya yang digendong dengan naik kursi roda, harus menyusuri lorong rumah sakit yang jaraknya cukup lumayan jauh. Semakin menyedihkan lagi, anak saya yang sudah jelas-jelas tidak sadarkan diri dan buruh perawatan khusus, ternyata digabungkan dengan anak-anak lainnya dengan kondisi sakit yang jauh beda dengan anak saya. Bahkan, di antrara pasien di ruang anak itu, ada yang menderitan kelainan di bagian paru-paru.

Ruangan itu memang ruangan tidak manusiawi. Pengelola rumahsakit benar-benar tidak memikirkan hak-hak seorang anak untuk mendapatkan pelayanan khusus. Saya merasa, bahwa pihak rumahsakit sudah menanamkan semboyan, bahwa siapapun keluarga yang datang berobat, senantiasa dikategorikan keluarga miskin. Kenapa demikian, karena mereka selalu bertanya: apakah keluarga punya kartu Askeskin atau memiliki surat miskin? Lebih konyolnya, ketika kita katakan kita pasien umum, mereka bukan mau bertanya apa kita membutuhkan ruangan khsusus atau perawatan khusus. Memang benanr-benar, tidak manusiawi mereka. Jadi, omong kosong kalau mereka berkoar-koar sudah melakukan perubahan dalam melayani masyarakat. Mereka hanya jual kecap, dan kecap yang mereka jual pun kecap basi.

Semakin tidak manusiawi lagi, ketika kami meminta agar anak kami dipindahkan ke Rumahsakit swasta yang lebih baik pelayanannya, mereka tidak memberi izin dengan alasan kondisi anak saya belum stabil. Bagaimana mau stabil, kalau yang menanganinya kebanyakan dokter-dokter muda. Kalau pun datang dokter senior–yang sudah banyak makan asam garam pelayanan kesehatan itu–hanya sebatas jadi bahan diskusinya keberadaan penyakit anak saya. Bahkan, saya dan istri diberi informasi yang sangat menakutkan,, yaitu anak saya sudah mengalami kondisi di mana amuba sudah masuk ke dalam otaknya dan anak saya dikatakan kekurangan gizi. Kalaupun itu benar adanya, kenapa dokter yang tidak manusiawi itu, mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaan di kepala dengan CT Scan dan menempatkan anak saya di tempat yang lebih layak. Memang benar-benar tidak punya perasaan mereka-mereka yang melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan anak saya itu.

Dua hari mendapatkan perawatan di Rumahsakit Pirngadi Medan, dengan setengah memaksa, kami datangi dokter yang merawat anak saya. Kami minta mereka untuk terbuka tentang kondisi anak saya, dan apa alasan mereka menahan anak kami agar tidak bisa dipindahkan ke rumahsakit yang lebih baik. Karena didesak, akhirnya seorang dokter mengakui bahwa anak saya sebaiknya dipindahkan karena sakitnya sudah serius. Kemudian, ia bilang pelayanan di Rumahsakit Pirngadi memang tidak becus dan semuanya serba lamban. Dalam melakukan diagnosa terhdap penyakit anak saya, seharus dilakukan cepat dan segera. Tapi, di Rumahsakit Pirngadi Medan, semua serba lamban.

TANGGAL 20 SEPTEMBER 2008
Kami akhirnya memutuskan untuk memindahkan anak kami ke Rumaksakit Kesdam I/BB di Jalan Putri Hijau Medan. Sebelumnya, saya sudah konsultasi dengan Dokter Bayu ahli bedah syaraf. Dokter yang ramah dan benar-benar memberikan ketenangan dalam diri saya itu menjelaskan, jika manusia mengalamai kondisi tidak sadarkan diri, ada dua penyebab, yakni di bagian kepala atau di luar kepala. Ia menganjurkan setelah keluar dari Rumahsakit Pirngadi Medan, segera dilakukan CT Scan di kepala.

Kami ikuti anjuran Dokter Bayu untuk melakukan CT Scan di Rumahsakit Materna. Sesampainya di Rumkit Kesdam I/BB, anak saya segera diberi perawatan khusus di ruang ICU. Saya bersama istri merasa lega karena pelayanan yang demikian manusiawi-lah yang menjadi modal awal proses kesembuhan setiap pasien. Pukul 00.30 WIB, Dokter Bayu memberikan penjelasan kepada saya dan istri bagaimana hasil CT Scan bagian kepala anak kami. Alhamdulillah, ternyata apa yang dikatakan pihak Rumahsakit Pirngadi (yang kurang informatif dan menakut-nakuti itu), tidak ada sama sekali. Kondisi tempurung kepala dan otak anak kami sangat baik dan tidak ada dimasuki amuba.

Dengan penjelasan tersebut, kami semakin merasa lega. Perubahan demi perubahan terus terjadi dalam diri anak kami. Sungguh ini pengalaman yang sangat penting dijadikan pelajaran. Saya menganjurkan, agar masyarakat Medan, tidak membawa anak yang sudah dalam kondisi mengkhawatirkan ke Rumahsakit Pirngadi Medan. Kalah menang, sebaiknya bawakan anak kita ke rumahsakit yang benar-benar memberikan pelayanan manusiawi. Karena kita bukan kelinci percobaan para dokter muda yang datangnya dari berbagai perguruan tinggi di kota Medan (apakah itu Universitas Sumatera Utara, Universitas Metjodist Indonesia, atau Universitas Islam Sumatera Utara).

Yang jelas, kalau di Rumahsakit Pirngadi Medan, anak kita akan lebih banyak ditangani oleh dokter muda. Mereka juga tidak memiliki ketentuan-ketentuan yang tegas. Misalnya saja dalam hal melakukan kompres menurunkan panas. Yang satu mengatakan dengan air hangat, kemudian yang lain mengatakan dengan air dingin. Mana yang benar. Sekali lagi, jangan bawa anak Anda ke Rumahsakit Pirngadi, karena nanti akan dijadikan “kelinci percobaan”. Ruangan anaknya “ngeri”, jorok dan tidak terawat. Pasien dianggap bukan manusia lagi. Dokter-dokternya, setiap tamu yang masuk ke ruangan, seenaknya saja pakai sepatu atau sendal. Bagaimana anak mau sembuh, sementara tempat mereka dirawat tidak steril. Bukankah ini bentuk kekejaman tersembunyi dari orang-orang yang memahami tentang pentingnya kesehatan. Katanya dokter, tapi kenapa tidak menghormati sterilisasi.

Sepertinya, kita perlu membentuk wadah untuk melakukan pemantauan kinerja para dokter dan pengelola Rumahsakit Pirngadi Medan, agar mereka secara moral dapat kita hukum. Kebobrokan Rumahsakit ini perlu terus dipublikasikan agar mereka dapat lebih menghargai hak-hak orang sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

INGOT SIMANGUNSONG

INGOT SIMANGUNSONG

Medan, 22 September 2008
INGOT SIMANGUNSONG


Ditulis dalam RS PIRNGADI MEDAN

1 Komentar »

  1. Itu sudah biasa pak Ingot. JIka yang dirawat di sana korban kecelakaan kebanyakan pasti tidak selamat. Saya mengerti RS Pirngadi ada RS besar sehingga agak sedikit sulit dalam kordinasi tapi itu bukan alasan perlakuan tidak manusiawi pada pasien (terutama pasien Askeskin/Jamkesmas).

    Beberapa koran sudah meliput borok RS Pirngadi, sanitasi yang buruk, lift yang bisa jatuh, pasien HIV/AIDS yang sampai dicuekin atau diletakkan begitu saja. Ah.. di mana sumpah dokter/perawat itu. Cukup kita rindukan saja….

    Komentar oleh LIm — Desember 2, 2008 @ 8:08 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: