Keluargaberencana's Weblog

Hamil, Hak Wanita Sepenuhnya | September 22, 2008

KURANGNYA pengetahuan, pendidikan yang rendah, dan bombardir mitos, acap kali membuat wanita tak berdaya. Banyak wanita yang sebetulnya tidak ingin hamil lagi, tapi tidak tahu cara mencegahnya.

Di samping pelurusan mitos tentang kontrasepsi, edukasi hal-hal praktis juga perlu dilakukan. Semisal kehamilan tetap bisa terjadi kendati wanita yang baru melahirkan tersebut belum mengalami haid lagi.

Mitos bahwa hubungan seks yang jarang tidak akan membuahkan kehamilan, juga perlu diluruskan. Ada pula yang meyakini bahwa kalau tidak ingin hamil, sehabis berhubungan seks si wanita lompat-lompat atau minum minuman soda saja.

“Banyak sekali mitos yang menyesatkan, dan masyarakat tidak sadar bahwa dengan menakut-nakuti para ibu ini malah membuat para ibu menjadi lebih ‘sial’ karena anaknya jadi banyak, bisa 5 sampai 6 orang,” tutur Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), atau biasa disapa Ovy.

Menurut Ovy, berdasarkan penelitian seorang profesor di Bandung, disimpulkan para ibu sesudah memiliki tiga anak umumnya tidak ingin punya anak lagi. Sementara itu, dr Ramona Sari dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan, hamil dan tidak hamil merupakan hak reproduksi perempuan.

Sungguh ironis karena kenyataannya masih banyak wanita yang hidup di bawah belenggu. Artinya, banyak anggapan wanita berkewajiban untuk hamil bagi suami dan negara. Dengan kata lain, kehamilan diatur menurut kepentingan laki-laki dan politik. Fenomena ini sudah terjadi sejak zaman Aristoteles dan Plato, dan masih berlangsung hingga kini.

Terkait kehamilan tidak direncanakan (KTD), bagaimana bila sudah telanjur terjadi? Pilihannya adalah meneruskan atau tidak meneruskan kehamilan.

“Menurut saya seluruh kehidupan itu adalah anugerah. Jika sudah telanjur hamil, kita akan mempertahankan kehidupan dan menjaga si ibu supaya bisa melahirkan dengan baik dan bayinya sehat,” tutur Ovy.

Jika ada pasien datang dengan keluhan KTD, dokter lulusan FKUI itu senantiasa mengupayakan agar kehamilan yang tadinya ‘tidak direncanakan’ tersebut menjadi kehamilan yang ‘bisa diterima’. Pada awalnya pasien mungkin menolak, menangis atau marah-marah.

“Memang ada fasenya.Biasanya saya beri pengertian bahwa banyak pasien saya yang datang dan menangis ingin punya anak, mengharapkan bayi kecil. Tidak mudah membuat anak. Misalnya ada pasangan yang menggunakan bayi tabung berpuluh-puluh kali pun bisa gagal. Nah, akhirnya saya beri pengertian bahwa kehamilan berarti anugerah luar biasa dan harus disyukuri,” papar wanita yang tidak setuju jika janin harus digugurkan tanpa indikasi medis.

Selanjutnya, Ovy juga menambahkan bahwa wanita yang baru melahirkan secara caesar dan dua bulan kemudian telanjur hamil lagi sebaiknya tetap meneruskan kehamilannya.

“Luka bekas operasi caesar bisa sembuh dalam 40 hari. Jika dia bisa hamil, berarti semua kondisi di rahimnya sudah sehat kembali, tapi memang belum cukup sehat untuk bisa melahirkan kembali dan lebih berisiko untuk melahirkan normal,” katanya.

Adapun aborsi (menggugurkan atau mengeluarkan bayi) sebelum waktunya hanya dilakukan apabila ada indikasi medis, utamanya demi kepentingan si ibu yang bersifat major. Semisal si ibu sakit jantung hebat atau mengalami preeclampsia hebat sehingga kalau janin tidak segera dikeluarkan ibunya bisa koma. Indikasi lainnya adalah kecacatan hebat janin seperti hidrocepalus.

“Cacat janin ini sudah dapat dideteksi sejak usia kehamilan tiga bulan,” katanya.

Lebih lanjut Ovy menegaskan, acap kali orang baru tersadar dan berpikir ketika masalah sudah telanjur terjadi. Untuk itu, kegiatan edukasi penting dilakukan agar wanita dapat melakukan upaya pencegahan yang tepat.

“Tuhan mengajarkan kita cara untuk berpikir dengan melakukan cara-cara legal. Kadang ada wanita yang tidak mau KB (kontrasepsi), tapi ketika kemudian telat haid, mereka coba minum jamu-jamuan. Menurut saya, itu termasuk kelakuan aborsi yang tidak bertanggung jawab karena bisa membahayakan ibu dan janin. Padahal hasilnya juga belum jelas,” paparnya.

“Jadi,pilihlah hamil yang lebih bertanggung jawab karena anak itu titipan Tuhan yang harus dipelihara,” pungkas Ovy.


Ditulis dalam KESEHATAN

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: