Keluargaberencana's Weblog

Mari Buka Hati untuk Keluarga Berencana | September 18, 2008

oleh INGOT SIMANGUNSONG

Asrul hidup bersama istrinya Mira di sebuah rumah berdinding tepas dengan berlantaikan tanah. Mereka sudah dikaruniai empat anak dan akan menyusul anak kelima karena Mira sedang hamil. Sebagai kepala keluarga, Asrul itu pengangguran, demikian juga dengan Marni. Dampaknya, tiga anak mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena perekonomian keluarga mereka sangat memprihatinkan. Lebih menyedihkan lagi, anak mereka pernah jatuh sakit (masuk angin) karena mereka seharian belum makan.

Gambaran di atas merupakan cuplikan peran salah satu tokoh cerita dalam sinema elektronik (sinetron) “Para Pencari Tuhan Jilid 2” yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Kisah keluarga Asrul ini, dapat melahirkan berbagai persepsi tentang makna sebuah keluarga. Tergantung dari sudut pandang mana kita ingin memahami atau mendalami masalah tersebut. Namun, pesan yang demikian penting dari adegan itu, adalah bagaimana anak bangsa di negeri ini dapat melihatnya sebagai sebuah peringatan tentang pentingnya keluarga berencana.

Merencanakan Keluarga Berencana
Bersatunya seorang lelaki dengan seorang wanita dalam legalitas sebuah pernikahan, haruslah tetap dilihat dari sisi “kemerdekaan” keduanya. Merdeka dalam pengertian, bahwa di antara suami istri, tidak akan ada sikap atau rasa ingin saling menguasai, saling menekan atau saling merampas “kemerdekaan” dalam berekspresi.

Kemudian, yang tidak kalah penting mendapat perhatian, bahwa kedudukan seorang wanita sebagai pasangan dalam membina sebuah keluarga, jangan hanya sekadar difokuskan pada konteks memberikan keturunan (anak). Sehingga, kaum lelaki menjadi tidak perduli terhadap ketentuan-ketentuan sebuah reproduksi, atau dengan kata lain, menjadi seenaknya memanfaatkan “kerahiman” seorang istri untuk sebuah target, yaitu mendapatkan keturunan. Padahal dalam kesejatian hidup bersamanya sebuah pasangan, adalah untuk merasakan nikmatnya keluarga bahagia dan sejahtera.

Artinya, akan menjadi sebuah pemandangan yang cukup memprihatinkan, jika seorang istri setiap tahun harus melahirkan anak sebagai sebuah kewajiban yang tidak tersirat maupun tersurat. Jika ini yang terjadi, tidak bisa kita bayangkan, bagaimana letihnya seorang istri yang harus melakoni peran seperti itu. Kalau kita mau sedikit jujur, hal ini dapat dikategorikan sebagai perampasan “kemerdekaan” seorang istri dalam mendapatkan hak-haknya untuk beristirahat dalam memberikan keturunan. Situasi ini, hanya dapat diselami dengan pemahaman pada setebal apa hati nurani kita untuk menyikapi peranan seorang istri sebagai pendamping hidup.

Dalam merencanakan sebuah keluarga, tentu saja tidak dapat kita melepaskan diri dari apa yang terkandung pada kesepemahaman dalam memposisikan manusia sebagai mahluk yang mulia. Dalam konteks kemuliaan tersebut, penempatan manusia itu pun, harus ditempatkan pada tempat yang mulia.

Artinya, sebagai seorang manusia, setiap anak yang lahir dari rahim ibunya, sangat membutuhkan perlakuan-perlakuan yang juga sangat manusiawi sifatnya. Jelasnya, hak azasi kemanusiawian seorang anak, harus diperhatikan secara kolektif oleh setiap pasangan suami isteri.

Kekolektifan itu, di antaranya adalah bahwa si anak memiliki hak dalam menikmati pertumbuhan jiwa raga yang baik/merdeka, hak dalam mendapatkan kasih sayang, hak dalam mendapatkan pendidikan yang layak, hak dalam mendapatkan masa depan yang cerah dan hak-hak lainnya. Untuk mendapatkan hak-hak itulah, sangat dan sangat dibutuhkan sebuah perencanaan dalam membina sebuah keluarga.

Keluarga berencana mempunyai arti yang sangat penting, dan tidak hanya sebatas dalam mengupayakan bagaimana menahan laju pertumbuhan penduduk di negeri ini, yang diperkirakan pada tahun 2015 akan menjadi 250 juta jiwa. Lebih mendalam lagi dari pentingnya merencanakan sebuah keluarga, adalah kaitannya dalam upaya mewujudkan keluarga (manusia) Indonesia sejahtera.

Jadikan Kontrasepsi Sebagai Kebutuhan
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam menumbuhkembangkan kesadaran untuk berkeluarga berencana adalah, bagaimana pasangan suami istri dapat membuka hati nuraninya terhadap mediasi yang diperkenalkan. Keterbukaan adalah kata kunci bagi setiap pasangan suami istri yang memang sangat mendambakan terwujudnya sebuah keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Bagaimana mendapatkan hal tersebut?

Jawabannya ada pada kata kontrasepsi, yang berkaitan erat dengan apa yang kita sebut perencanaan keluarga. Bagi kebanyakan pasangan suami istri yang sudah menyadari betapa pentingnya perencanaan keluarga, kontrasepsi saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan. Salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik. Artinya, dalam pola perencanaan keluarga, kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase, yakni untuk menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan dan mencegah kehamilan (tidak ingin hamil lagi).

Tidak hanya itu, kontrasepsi juga dapat dirasakan sebagai kebutuhan sosial. Di samping program pendidikan dan kesehatan, program keluarga berencana (KB) mempunyai arti sangat penting dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera. Perkembangan dan kemajuan riset dalam bidang kontrasepsi, telah memberikan kontribusi positif, terutama dalam meningkatkan kualitas hidup wanita. Kontrasepsi, kini tidak lagi hanya bermanfaat untuk mencegah kehamilan, namun juga dibutuhkan untuk memberikan manfaat non kontraseptif, seperti menjaga kestabilan berat badan dan membuat kulit tetap cantik.

Kemudian, kontrasepsi hormonal, juga memberikan manfaat tambahan, terutama untuk kesehatan reproduksi wanita, seperti siklus haid yang lebih teratur dan mengurangi risiko-risiko penyakit kandungan seperti kista, kanker indung telur, kanker endometrium dan lainnya. Jika dikaitkan dengan kelangsungan perawatan tubuh wanita, tidak terlepas dari ungkapan “your life, your body, your choice”. Kalau kita artikan secara sederhana, makna yang terkandung pada ungkapan tersebut adalah, bagaimana seorang wanita dapat mempertahankan kehidupan dan tubuhnya, tergantung pada secerdas apa ia dapat melakukan pilihan untuk mempertahankan hal itu.

Inilah yang disebut pada bahasan di atas, bahwa “kemerdekaan” seorang wanita dalam menentukan pilihan terhadap kelangsungan hidup dan perawatan tubuh, harus benar-benar dihormati seorang suami. Penghargaan yang diberikan terhadap kaum wanita dalam konteks perencanaan memberikan atau mempersiapkan keturunan, akan menjadi pondasi yang kuat dan kokoh dalam memupuk kebahagiaan, yang muaranya akan menciptakan keluarga harmonis yang sejahtera.

Bersama Cegah Ledakan Penduduk
Pentingnya membuka hati terhadap program keluarga berencana, juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap ledakan penduduk yang merupakan salah satu permasalahan global yang muncul di seluruh dunia, di samping isu tentang global warning, perburukan ekonomi dan masalah pangan serta menurunnya tingkat kesehatan penduduk.

Kekuatiran akan terjadinya ledakan penduduk pada tahun 2015, mendorong pemerintah Indonesia membuat beberapa kebijakan penting. Diantaranya revitalisasi program keluarga berencana. Kenapa demikian, karena penduduk yang besar tanpa disertai dengan kualitas yang memadai, justru akan menjadi beban pembangunan dan menyulitkan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

Mendukung program tersebut, mari secara bersama-sama, kita galang kesepakatan dalam mencegah terjadinya ledakan jumlah penduduk. Salah satu harapan yang dapat kita jadikan sandaran adalah bagaimana kita turut berperan dalam peningkatan pemakaian alat kontrasepsi. Upaya ini, di samping menyokong program pemerintah, juga dapat ditempatkan sebagai suatu kebutuhan krusial bagi pasangan suami istri, sekaligus dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak. Tidak hanya itu, peranan ini juga akan memberikan kontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), sehingga membantu terwujudnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

Pasangan usia subur (20-35 tahun) perlu membuka hati untuk berkeluarga berencana, agar pemerintah dapat semakin memperluas akses pelayanan dalam memberikan penyuluhan terhadap kenyamanan dalam memilih kontrasepsi sebagai media penundaan kehamilan, menjarangkan kehamilan dan mencegah kehamilan (tidak ingin hamil lagi). Tidak hanya sekadar itu, para pasangan usia subur tersebut, juga sangat penting membuka hati terhadap program pemerintah ini, agar dapat memposisikan diri atau diposisikan sebagai duta keluarga berencana. Diharapkan, dengan semakin terbukanya akses BKKBN untuk mensosialisasikan kontrasepsi sebagai sebuah kebutuhan, kehadiran duta-duta keluarga berencana (KB), sangat mendesak untuk dipersiapkan, sehingga keinginan dalam mencegah ledakan jumlah penduduk ke 250 juta di tahun 2015 dapat semakin membumi.

Memperluas akses, dapat dilakukan BKKBN dengan melibatkan (kembali) organisasi-organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, keagamaan, dan lembaga-lembaga kebudayaan dan perkawinan. Di samping semakin terbukanya hati masyarakat untuk peduli dengan keluarga berencana, BKKBN perlu memberdayakan konsep jeput bola. Dekade kejayaan 20 tahun silam, perlu dibangkitkan kembali dengan melibatkan lembaga-lembaga komunikasi (media cetak dan elektronik).

Mari buka hati kita, dan sama-sama kita tanamkan apa yang terkandung dalam slogan: “Ayo Ikut KB, Dua Anak Lebih Baik.”

(Tulisan ini, diikutsertakan dalam Lomba Penulisan World Contraception Day [WCD Journalistic Award]).


Ditulis dalam OPINI

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: