Keluargaberencana's Weblog

Debat Soal Kasus Teror Australia | September 18, 2008

Pengadilan terbesar dalam perkara terorisme di Australia berakhir dengan tujuh warga muslim divonis bersalah.Mereka dinyatakan bersalah menjadi anggota organisasi ekstrimis yang merencakan perang keagamaan, dan menjadikan mantan perdana menteri dan event olahraga penting sebagai sasaran.

Setelah sidang maraton di Melbourne sejak Februari, juri menyimpulkan, Abdul Nacer Benbrika (foto atas), ulama kelahiran Aljazair, adalah otak rencana brutal untuk memaska pemerintah Australia untuk menarik mundur pasukannya dari Irak pada tahun 2005.

Jaksa menuduh Benbrika menimbulkan serangan bom seperti yang terjadi di Madrid, Spanyol terhadap Melbourne, kota terpadat kedua di Australia.

Yang sangat penting dalam investigasi ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang perwira polisi yang menyamar.

Agen polisi yang hanya disebut sebagai SIO 39 mengatakan kepada kelompok itu bahwa dia berasal dari Turki dan bisa mendatangkan bahan peledak murah.

Kontak telepon yang disadap juga menjadi bagian penting kasus terhadap ulama berusia 48 tahun itu dan para pengikutnya.

Ratusan percakapan telepon diam-diam direkam oleh penyelidik negara bagian dan federal serta aparat dinas intelijen Australia.

Kerusakan maksimum
“Kita mati untuk jihad,” kata Benbrika dalam rekaman. “Kami timbulkan kerusakan maksimum, kerusakan maksimum. Merusak gedung-gedung mereka dengan segalanya, dan merusak nyawa mereka hanya untuk memperlihatkan kepada mereka. Itulah yang kita sedang tunggu-tunggu,” katanya.

Juri mendapati Benbrika bersalah atas pelanggaran terorisme, termasuk menarahkan sel militan.

Terdakwa lain Amer Haddara, Aimen Joud, Fadl Sayadi, Abdullah Merhi dan dua bersaudara Ahmed dan Ezzit Raad dinyatakan bersalah menjadi anggota kelompok Benbrika.

Sedang, empat terdakwa lain, yaitu Hany Taha, Shoue Hammoud, dan Bassam dan Majed Raad – dinyatakan bebas dari segala dakwaan di pengadilan negara bagian Victoria.

Setelah 22 hari sidang, juri tidak mencapai kata sepakat tentang vonis bagi terdakwa keduabelas, Shane Kent, 31 tahun, yang juga didakwa menjadi anggota sebuah kelompok teroris.

Dia mungkin diadili ulang. Semua tertuduh membantah dakwaan.

Terlalu lebar
Pengacara Greg Barns, yang membela salah satu terdakwa, bersikukuh mengatakan, jaring undang-undang terorisme Australia terlalu lebar dan menjebak orang tidak bersalah.

“Undang-undang itu terlalu luas,” kata Barns. “Itu harus dibatasi, sehingga menangani akar permasalahan, yang diocba diatasi, yaitu, terorisme, bukannya menyapu semua orang.”

Namun, Jaksa Agung federal Australia Robert McClelland menyambut vonis juri.

“Penuntut yang berhasil tentu penting, sangat penting, untuk mengirimkan pesan yang tegas kepada mereka yang mungkin terpengaruh oleh ekstrimisme dengan kekerasan,” kata McClelland dalam konferensi pers.

“Prospek riil kesimpulan bersalah dan pemenjaraan semoga akan membuka mata kepada apa itu terorisme sebenarnya: tidak lebih dari tindakan pindak dalam tingkat paling hina dan brutal, yang ditujukan pada warga sipil tidak bersalah sebagai sasaran pilihan,” tambahnya.

Kecurigaan
Waleed Ali, dari Global Terrorism Research Centre pada Monash University di Victoria, juga yakin bahwa perkara yang mendapat perhatian luas itu mungkin menarik warga muda muslim Australia dari jalur militansi.

“Bagi banyak orang yang mungkin berada di ambang radikalisasi, saya rasa ini mungkin mengirimkan semacam pesan kepada mereka bahwa pihak berwenang waspada, dan dengan demikian itu mungkin menimbulkan semacam posisi untuk mundur,” kata Waleed Ali kepada Australian Broadcasting Corporation.

Namun, kegelisahan muncul di beberapa kalangan bahwa vonis terhadap ketujuh pria muslim itu akan kembali mengundang perhatian dan kecurigaan yang tidak dikehendaki terhadap komunitas muslim yang merupakan minoritas di Australia.

“Merisaukan kami bahwa secara tidak langsung, orang akan menyangka muslim rentan terhadap tindak kekerasan dan tindak terorisme,” kata Malcom Thomas dari Victoria Islamic Council.

“Itu keprihatinan kami dan itu persepsi yang jelas dimunculkan oleh kasus-kasus seperti ini dan kegiatan-kegiatan di luar negeri,” katanya.

Kasus terorisme terbesar Australia ini belum rampung. Kawanan anggota kelompok yang dinamai Benbrika Seven masih menunggu vonis hukuman penjara berat. Dan, para pengacara mereka mengisyaratkan mereka akan mengajukan banding atas vonis mereka.


Ditulis dalam BERITA

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: