Keluargaberencana's Weblog

Kenali Usia Rawan Pernikahan | September 17, 2008

SETELAH sekian lama menjalin hubungan asmara, tentunya sebuah pernikahan menjadi harapan bagi Anda dan pasangan. Namun demikian, menikah bukan berarti akhir dari cerita bak dongeng-dongeng puteri raja.

Setelah menikah, justru banyak cobaan yang mendera. Ibarat sebuah perahu di lautan lepas, seperti itu pula sebuah pernikahan. Kendati dihantam oleh kerasnya arus gelombang ombak, pernikahan tetap harus berjalan seiring pergantian hari hingga tahun.

Nah, sebelum Anda mulai memutuskan untuk mengukuhkan perjalanan cinta, ada baiknya untuk mengenali usia rawan sebuah pernikahan. Mengenai hal itu, psikolog Rudangta Arianti Sembiring memberikan pandangannya.

“Sebenarnya usia rawan pernikahan itu di semua tahun. Tapi yang paling dianggap rawan ialah tahap pertama perkawinan, yaitu setelah masa bulan madu. Hal itu terjadi lantaran Anda dan pasangan sudah mulai menyadari keanehan-keanehan dalam pernikahan,” ucap Rudangta saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Rabu (17/9/2008).

Menurut Rudangta, hal-hal aneh yang terjadi saat memasuki gerbang pernikahan dimulai saat Anda maupun pasangan saling menyadari karakter masing-masing.

“Hal-hal sepele semisal cara meletakkan barang di sembarang tempat dapat memulai perbedaan pendapat yang akhirnya memicu rasa aneh di antara Anda dan pasangan,” papar psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini.

Setelah masalah itu dapat diatasi, sambungnya, masih ada masalah lain yang harus dihadapi. Salah satunya ialah mengenai anak. Dari karakter dan pandangan yang berbeda, masalah anak dapat memicu pertengkaran.

Dilanjutkan staf pengajar Universitas Kristen Satya Wacana ini, setelah kondisi mulai stabil dan anak-anak telah beranjak dewasa serta mulai meninggalkan Anda dan pasangan, kehidupan berdua semakin menunjukkan perbedaan-perbedaan. Saat itu, kalian berdua mulai harus kembali beradaptasi.

“Tahap akhir ialah pada masa tua yang secara kesehatan fisik mulai menurun. Masa pensiun biasanya membuat Anda dan pasangan mulai sensitif. Hal itu dapat dimaklumi lantaran kalian berdua biasa memiliki pekerjaan dan uang, sementara saat harus pensiun segalanya telah berubah. Anda dan pasangan pun mau tak mau harus menghadapi kondisi tersebut,” bebernya panjang lebar.

Untuk menghindari agar perjalanan rumah tangga yang akan dibina dapat terjalin harmonis hingga akhir usia, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh.

Terutama ialah jalin komunikasi yang baik mulai dari pertama kali Anda berdua memutuskan untuk menjalin asmara hingga menikah. Karena suatu hubungan tak akan berjalan mulus tanpa komunikasi yang baik.

Tak hanya itu saja, lanjut Rudangta, belajar untuk saling mengerti satu sama lain sangat perlu dilakukan agar hubungan tetap terbina baik. Dengan begitu, adanya ketidakcocokan akan dapat diatasi.

Menurutnya lagi, setelah dapat saling beradaptasi, Anda dan pasangan harus dapat pula mengikuti perubahan yang terjadi dengan berusaha untuk selalu saling berbagi waktu. (sumber: okezone.com)


Ditulis dalam KELUARGA

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: