Keluargaberencana's Weblog

Hj Sri Sulityawati SH MSi PhD: “Semakin Berisi, Semakin Runduk” | September 17, 2008

liputtan INGOT SIMANGUNSONG
foto DAENK HARYONO

Hj Sri Sulityawati SH MSi PhD (48 tahun), pernah terpilih mewakili Indonesia dalam pertemuan “The 3rd World Women University President Forum” di Beijing, RRC. Kegiatan tersebut diikuti 200 rektor perempuan dari 54 negara di dunia. Sebagai Rektor UMN Al-Washliyah, ia sudah melakukan “gebrakan” demikian signifikan, jumlah mahasiswa dari 300-400 orang, melejit ke angka 2.000 orang. Ia tinggalkan dunia lawyer, dan menekuni dunia pendidikan. “Saya jalani dengan keikhlasan. Saya tidak pernah dengki sama orang lain. Saya berprinsip, rezeki orang itu, rezeki mereka,” kata Sri yang memiliki motto “Semakin Berisi, Semakin Runduk” ini.

Apa yang mendorong Anda, demikian menekuni bidang pendidikan?

Sebenarnya, cita-cita awal saya, tidak terfokus pada bidang pendidikan. Setelah saya lihat dan perhatikan, bagaimana orangtua saya memperjuangkan anak-anaknya harus mengecam pendidikan dan harus jadi sarjana, saya menyadari betapa sulitnya orangtua membangkitkan anak-anaknya untuk memahami keinginan orangtua bahwa pendidikan itu merupakan investasi di masa depan. Pada saat saya sudah sarjana, cerminan orangtua saya yang selama ini mendidik saya, justru memotivasi saya untuk kepingin menjadi dosen.

Saya itu tadinya lawyer, pengacara. Namun, setelah saya padukan antara lawyer dengan pendidikan, nilai-nilai pendidikan jauh berbeda, dan jiwa saya berontak dengan keadaan saya saat jadi pengacara. Di dunia pendidikan ini, ada tercermin nilai-nilai idealis. Nilai-nilai itulah yang lebih banyak mendorong saya untuk lebih menukuni dunia pendidikan.

Kalau dilihat dari sisi materi, memang jauh dibandingkan dengan yang saya dapat dari dunia lawyer. Tapi, nilai idealisnya tertanam di dunia pendidikan. Akhirnya, saya putuskan untuk memasuki dunia pendidikan, dan lawyer saya tinggalkan.

(Tahun 1987, Sri yang lulusan Fakultas Hukum UISU Medan ini, diangkat sebagai dosen Kopertis Wilayah I Sumut-NAD dan dipekerjakan di Fakultas Hukum UISU hingga tahun 1997. Kemudian, tahun 1997-2002), ia dipercayakan sebagai Dekan Fakultas Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah. Selanjutnya, Sri yang menyelesaikan S-3 Fakultas Antropologi Sosiologi University Malaya Malaysia ini, tahun 2000-2003 diangkat menjadi Pembantu Rektor II di UMN dan tahun 2003 hingga sekarang, sebagai Rektor UMN.)

Kenapa harus memilih jadi dosen?

Ternyata, setelah melalui proses tersebut, saya merasa dunia pendidikan ini cukup unik. Artinya, mendidik manusia untuk berkualitas, untuk inves ke depan, calon pemimpin, merupakan sesuatu yang tidak mudah dan itu tantangan. Untuk mencapai hal tersebut, saya harus idealis dulu, harus bersih dulu. Makanya, cerminan keinginan kedua orangtua saya yang selalu mendidik saya harus ikhlas, menghargai sesama, rendah hati, dan jangan sombong, justru saya dapat di dunia pendidikan. Inilah yang mendalami saya untuk menekuni pendidikan melalui perguruan tinggi, diawali sebagai dosen.

Tantangan apa yang Anda rasakan, saat Anda beralih dari lawyer ke dunia pendidikan?

Tidak ada. Saya tidak mendapatkan tantangan apa-apa, karena waktu saya lawyer saya sudah jadi dosen. Proses peralihannya, hanya dari sisi materi saja, di mana saya tidak mendapatkan materi seperti saat jadi lawyer. Tetapi, saya sudah merasa cukup secara materi. Ini sudah merupakan panggilan, jadi tidak ada tantangan yang harus saya hadapi.

Persiapan yang Anda lakukan dalam peralihan tersebut?

Tidak ada. Persiapan saya ya melalu proses tadi, saat pengacara, saya sudah jadi dosen. Jadi, ilmu praktik yang saya terapkan dengan teori, menjadi suatu hal yang idealis. Ini yang menjadi satu nilai lebih bagi saya. Bagi saya, tidak ada tantangan yang demikian spesifik ketika menjadi pendidik.

Apa kenikmatan yang Anda rasakan setelah menekuni dunia pendidikan?

Saya merasa enjoy, dan saya merasa muda terus, karena saya ketemu terus dengan mahasiswa. Saya sangat dekat sekali dengan dosen, mahasiswa. Saya menjalani konsep keterbukaan, karena dunia pendidikan ini harus dimenej dengan keterbukaan. Nggak bisa sistem birokrasi diterapkan di dunia pendidikan, tidak bisa. Kalau saya terapkan sistem birokrasi, dosen-dosen saya tidak akan terbuka. Rektor itukan hanya jabatan sementara. Justru saat sebagai rektor, saya ingin berbuat baik, dan berbuat banyak kepada orang lain. Saya harus dekat dengan staf saya, karena mereka yang tahu kondisi. Kalau mereka tidak saya sampaikan sama saya, saya mana tahu kondisi.

Untuk menerapkan manejemen keterbukaan inikan, bukan pekerjaan gampang?

Oh ya. Tapi, dunia pendidikan memerlukan “keikhlasan”. Kalau seorang pimpinan di perguruan tinggi mencari materi, jangan diharap. Karena nilai sebuah perguruan tinggi itu, nilai sosialnya lebih tinggi. Jadi, nilai “ikhlas” dan kebersamaan, itu harus nomor satu.

Keikhlasan harus ada pengorbanan?

Betul. Itu jelas. Artinya begini, siapa sih yang tidak membutuhkan materi. Tetapi, jangan materi itu jangan dijadikan hal utama, karena misi dunia pendidikan itu sudah jelas, misi sosial bukan bisnis. Salah kalau dunia pendidikan itu dijadikan bisnis.

Ketika hal tersebut Anda sampaikan kepada para dosen, bagaimana mereka menanggapinya?

Pertama memang agak susah. Namun, saya sebagai pimpinan harus memulai. Mereka akan lebih risih akhirnya. Pimpinan saya saja seperti itu, kok saya mau berlagak. Pimpinan saya saja tidak berhitung soal duit, kok saya begitu. Akhirnya, “keikhlasan” dan kebersamaan itu bisa diterima. Hasilnya, perkembangan UMN cukup melejit. Jumlah mahasiswanya yang biasa 300-400 orang, tahun ini menjadi 2.000 orang. Dulu, UMN tidak diperhitungkan, namun tiga tahun terakhir kemajuannya sangat menggembirakan.

(Ia mengaku sangat beruntung karena orangtuanya memberikan nama Sri, yang artinya Dewi Padi. “Artinya, orangtua saya menginginkan anaknya kalau sudah menjadi orang besar, merunduk layaknya padi, merendahkan diri. Mesti pun berilmu, ilmu itu dinikmati orang banyak. Padikan dinikmati orang banyak. Beruntung saya mendapatkan nama ini, dan saya implementasikan sudah cukup lama,” kata putri pasangan almarhum Panidi dan almarhumah Lasmiyati ini.)

Pola apa yang Anda lakukan untuk memperkenalkan UMN ke dunia luar?

Yang pertama, saya siapkan dulu di internal UMN. Ketika saya menjadi rektor, 16 program bidang studi, baru satu yang terakreditasi. Saya berpikir, kalau UMN mau maju, semua bidang harus terakreditasi. Dalam tempo setahun, ke-16 bidang studi sudah terakreditasikan.

Yang kedua, saya berpikir, apa sih yang diperlukan mahasiswa. Ya, sarana dan prasana. Dulu, 95% bidang studi farmasi bergantung pada USU. Saya cari bantuan ke mana-mana, sekarang berbalik, 95% sudah memiliki alat sendiri. Saya lengkapi dulu, semua sarana dan prasana kampus. Setelah itu, mahasiswa kan market kami. Kalau program UMN sudah bagus, kan terjalin trust yang ada di masyarakat. Uang yang ada, kami putar untuk kepentingan mahasiswa.

Setelah itu, saya menjalin network, dengan Malaysia, Beijing dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ini saya mau diundang ke Jepang. Kemudian, kalau ada bantuan dari mana pun, benar-benar kami pergunakan untuk dinikmati mahasiswa. Uang kuliah di sini murah, Rp 2 juta dan bayar lima kali. Kita memang niatnya membantu masyarakat. Nah, trust masyarakat semakin percaya.

Anda merasa capek mengemban tugas ini?

Capek memang. Tapi, saya lihat dari nilai ibadahnya. Kalau kita bekerja dengan nilai ibadah, rasa capek itu akan hilang. Semoga seorang muslim, saya salat tahajud agar Allah Swt memberikan kekuatan. Saya menjadi senang dan merasa happy.

Bagaimana peranan keluarga mendukung Anda?

Alhamdulillah anak saya hanya satu, seorang putra dan suami saya sangat mendukung. Sebelum jadi rektor, saya tanya suami saya. Diizinkan apa tidak. Setuju, dan diminta untuk maju.

(Suami Sri, Ir Suardi Santoso saat ini bekerja di Riau dan anaknya Bagoes Arthiko kuliah semester VIII di STIE Harapan. “Alhamdulillah, keluarga saya sangat mendukung,” kata wanita yang hobi basket, voly, tenis meja dan badminton ini.)


Ditulis dalam FIGUR

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: